Preloader

Office Address

123/A, Miranda City Likaoli Prikano, Dope

Phone Number

+0989 7876 9865 9
+(090) 8765 86543 85

Email Address

info@example.com
example.mail@hum.com

BEM FAI Gelar THINKHUB 2026: Hadirkan Praktisi Peternakan Bahas Inovasi Bersama Petani dan Peternak demi Pangan Bergizi dan Swasembada Protein

BEM FAI Gelar THINKHUB 2026: Hadirkan Praktisi Peternakan Bahas Inovasi Bersama Petani dan Peternak demi Pangan Bergizi dan Swasembada Protein

Yogyakarta, 23 Oktober 2026 – Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Agroindustri (BEM FAI) sukses menyelenggarakan kegiatan THINKHUB 2026 bertema "Dari Ladang dan Kandang ke Meja Makan: Inovasi Bersama Petani dan Peternak untuk Pangan Bergizi dan Swasembada Protein". Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 23 Oktober 2026, melalui Zoom Meeting ini diikuti oleh 217 peserta, yang terdiri dari mahasiswa dan peserta umum yang tertarik pada isu pangan, peternakan, dan agroindustri.

THINKHUB 2026 menghadirkan drh. Asep Rahmat Khaerudin, M.Pt sebagai narasumber. Beliau adalah praktisi peternakan, pengurus Koperasi Peternak Bandung Selatan (KPBS) Pangalengan, sekaligus akademisi. Dalam pemaparannya, narasumber mengajak peserta memahami tantangan pangan nasional dari hulu ke hilir, mulai dari kandang peternak hingga susu yang sampai ke meja makan, serta peran kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan koperasi dalam mewujudkan kedaulatan pangan Indonesia.
 

tinkhub-1.jpg

Diskusi bertajuk "Dari Ladang dan Kandang ke Meja Makan" diikuti 217 peserta melalui Zoom Meeting
 

Paradoks Protein Nasional

Materi diawali dengan gambaran paradoks ketersediaan protein hewani di Indonesia. Pada 2025, produksi telur ayam ras nasional mencapai 5,8 juta ton dengan kebutuhan 5,037 juta ton, sehingga terjadi surplus sekitar 763 ribu ton (11%). Daging ayam ras juga surplus sekitar 979 ribu ton (24%), dengan produksi 4,044 juta ton terhadap kebutuhan 3,065 juta ton.

Sebaliknya, pasokan susu dan daging sapi masih menjadi tantangan strategis. Dari total kebutuhan susu nasional sebesar 4,7 juta ton, sekitar 82,5% masih dipenuhi dari impor dan hanya 17,5% berasal dari produksi lokal. Konsumsi susu per kapita masyarakat Indonesia tercatat 16,39 liter per tahun, jauh di bawah negara-negara kawasan yang berkisar 35–50 liter per tahun. Konsumsi daging sapi pun baru 2,4 kg per kapita per tahun, dibandingkan 4,5–6 kg di negara regional. Menurut materi narasumber, defisit ini tidak dapat digantikan oleh surplus unggas.


Peternak Rakyat sebagai Benteng Ketahanan Pangan

Narasumber menegaskan bahwa petani dan peternak rakyat merupakan tulang punggung pasokan pangan nasional, penggerak ekonomi perdesaan, sekaligus penjaga sistem pertanian yang sirkular dan berkelanjutan. Namun, peternak rakyat masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain skala kepemilikan yang kecil (2–5 ekor), keterbatasan modal dan adopsi teknologi, ketergantungan pada pakan impor yang harganya fluktuatif (pakan menyerap 70–80% biaya produksi), serta posisi tawar yang lemah di tingkat hulu.

tinkhub2.jpg

Belajar dari Model Koperasi KPBS Pangalengan

Sebagai contoh nyata, narasumber memaparkan perjalanan KPBS Pangalengan, koperasi yang didirikan pada 1 April 1969 dan kini mengelola 16.280 ekor sapi, termasuk 6.989 induk produktif, dengan kapasitas produksi sekitar 79,9 ton susu per hari dari 4.776 peternak anggota. Susu tersebut dipasok ke industri pengolahan seperti PT Ultrajaya (46,26%), PT Frisian Flag Indonesia (41,45%), dan PT Indolakto (4,08%), sementara 8,21% diolah sendiri oleh PT Susu KPBS Pangalengan menjadi produk bernilai tambah.

Keberhasilan KPBS bertumpu pada model integrasi hulu-hilir. Di sisi hulu, koperasi menyediakan layanan pakan berkualitas, kesehatan hewan dan inseminasi buatan, serta digitalisasi administrasi berbasis ERP. Pengumpulan susu dilakukan melalui Milk Collection Point (MCP) digital dengan pendinginan pada suhu 2–4°C untuk menjaga mutu. Di sisi hilir, KPBS memiliki pabrik pengolahan susu, Bank Perekonomian Rakyat (BPR), dan rumah sakit untuk menunjang kesejahteraan anggota dan masyarakat.


Kontribusi pada Program Makan Bergizi Gratis dan Inovasi Lingkungan

Narasumber juga memaparkan kontribusi PT Susu KPBS Pangalengan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Saat ini, KPBS telah memasok 85 dapur SPPG di 7 kabupaten/kota dengan volume sekitar 800.000 cup per bulan, sementara kapasitas produksinya mencapai 2,5 juta cup per bulan dan baru terpakai sekitar 30%. Ke depan, perluasan jangkauan direncanakan ke sejumlah wilayah di Jawa Barat, seperti Sumedang, Purwakarta, Majalengka, Tasikmalaya, dan Indramayu.

Untuk meningkatkan kualitas peternak, KPBS menjalankan program Peternak Naik Kelas (2026–2030), yaitu pelatihan dan pendampingan lima tahun agar peternak skala mikro berkembang menjadi peternak skala menengah dengan 5–7 ekor sapi laktasi yang mandiri. KPBS juga mengolah limbah kotoran sapi (kohe) menjadi biogas, budidaya cacing, pupuk padat dan cair, serta mengembangkan prototipe mesin pengolah kohe menjadi pelet dan briket biomassa sebagai energi hijau. Dari 2.092 peternak yang terlibat, 181 orang mengolah kohe menjadi biogas, 360 orang membudidayakan cacing, dan 382 orang memproduksinya menjadi pupuk.


Pesan untuk Generasi Muda

Di akhir sesi, narasumber mengajak mahasiswa melihat peluang karier di sektor peternakan dan agroindustri, baik on-farm (agronom, dokter hewan, penerapan teknologi pertanian modern seperti IoT dan drone) maupun off-farm (teknologi pangan, agribisnis dan supply chain, keuangan mikro, hingga agri-tech startup). Sektor peternakan dan pertanian disebut bukan lagi pekerjaan tradisional, melainkan medan sains, teknologi, dan kewirausahaan, serta masa depan pangan bangsa berada di tangan generasi muda.

Dari semua materi yang kita dengarkan kita telah mengetahui bahwa kita sebagai bangsa Indonesia memiliki beberapa tantangan yang perlu di hadapi. Kita sebagai mahasiswa di harapkan dapat menutupi kekurangan-kekurangan yang ada di dalam negri. Karena, seperti yang kita ketahui contoh nya susu lokal, kita masih selalu impor. Apabila hal ini terus terjadi, akan menyebabkan ketergantungan yang tidak baik. Jadi, semoga dengan mengikuti dan mendengar segala pemaparan materi, kita sebagai mahasiswa dapat lebih berpikir kritis dan cepat dalam memecahkan masalah serta dapat meningkatkan pola pikir kita “Berpikir Kritis dan Aksi Nyata".

 

Admin Web
Author

Admin Web

Your experience on this site will be improved by allowing cookies.